Kerja lembur sering memaksa seseorang untuk terjaga sampai tengah malam. Fenomena ini biasanya disebut dengan begadang. Padahal studi terbaru membuktikan cahaya lampu di malam hari bisa memicu depresi.
Seperti yang dilansir dari My Health News Daily (25/07), peneliti memanfaatkan hamster untuk dianalisis. Mereka menemukan hamster yang selama empat minggu dikenai cahaya lampu di malam hari menjadi kurang aktif.
Berdasarkan studi ini, cahaya dari lampu di malam hari diduga menjadi penyebab stres orang-orang berusia 50-an. Hal itu dijelaskan oleh peneliti Tracy Bedrosian dari Ohio State University.
"Munculnya penemuan lampu cukup mengubah siklus siang dan malam hari umat manusia," demikian kata Bedrosian.
Siklus itu pun mengganggu ritme biologis kita dan memicu perubahan perilaku. Namun ada kabar baik dari dampak positif tersebut. Bedrosian menjelaskan, kembali membiasakan diri beraktivitas di rumah bisa mengurangi risiko depresi.
"Orang-orang yang suka begadang, di depan televisi atau komputer, bisa memutarbalik kondisi itu dengan memperbanyak kegiatan di luar rumah. Mengurangi begadang juga dianjurkan," tulis Bedrosian tentang studinya dalam jurnal Molecular Psychiatry.
Selama penelitian, Bedrosian menemukan peningkatan protein tertentu ketika begadang adalah penyebab depresi. Protein tersebut bernama tumor necrosis factor (TNF) timbul berlebihan karena cahaya lampu di malam hari. Meskipun sebenarnya fungsinya sebagai sistem imun, namun dampaknya juga buruk jika diproduksi terlalu banyak.
Sebelumnya, studi lain juga menyebutkan cahaya lampu di malam hari buruk bagi kesehatan. Misalnya meningkatkan berat badan dan memicu kanker. Adanya studi ini pun sebaiknya membuat kita mengurangi kebiasaan begadang jika hal itu tidak terlalu diperlukan.