Otak Kecapean, Makan Jadi Banyak

||
Image634753867250625000Kurangnya waktu istirahat terkadang membuat otak menjadi lelah dan sulit fokus. Efek samping lainnya, bisa membuat Anda mengonsumsi lebih banyak kalori karena merasa lapar akan junkfood.

Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa kebiasaan tidur seseorang memiliki hubungan dengan rasa lapar dan nafsu makan yang menyebabkan peningkatan berat badan. Tidak hanya perut, otak pun memiliki peran yang sama.

Menurut studi yang dilakukan oleh para peneliti di Boston, kurang tidur dapat meningkatkan aktivitas pada area otak yang mencari kesenangan --termasuk kesenangan yang didapat saat memakan junkfood. Rasa lelah dan mengantuk juga dapat mengurangi aktivitas otak di arean yang berfungsi menahan nafsu makan.

Dalam studinya, para peneliti di Columbia University meneliti 25 orang pria dan wanita dengan berat badan normal untuk melacak aliran darah ke dalam otak selama mereka melihat gambar makanan sehat dan makanan tidak sehat. Mereka meneliti otak responden yang dibagi menjadi dua kondisi yang berbeda. Kondisi pertama, responden tidur nyenyak selama sembilan jam, sementara kondisi kedua responden hanya tidur selama empat jam.

Hasilnya, gambar junk food muncul di dalam otak yang mengalami kurang tidur, di bagian otak yang menganggap kalau junk food adalah hadiah bagi mereka. Akan tetapi, hal yang sama tidak tampil dalam otak orang-orang yang beristirahat dengan cukup.

Dari hasil penelitian ini, orang-orang yang tidurnya dibatasi cenderung melihat makanan-makanan yang tidak sehat sebagai sesuatu yang menarik ketimbang makanan lainnya. Mereka juga menganggap makanan berkalori tinggi itu sebagai sebuah hadiah bagi diri mereka, sehingga pengonsumsian junkfood akan semakin meningkat.

"Area otak yang mencari kesenangan terangsang ketika orang kurang tidur. Hal itu membuat orang-orang mencari makanan seperti pepperoni pizza, cheeseburger, dan kue. Kami berhipotesis bahwa otak yang kekurangan tidur bereaksi terhadap rangsangan makanan, "jelas pimpinan penelitian Marie-Pierre St-Onge, Ph.D.