Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Queensland University of Technology (QUT) menemukan bahwa melakukan perjalanan bersama orang yang terkena flu selama 90 menit saja, maka risikonya terular flu sudah sama dengan bepergian menggunakan pesawat Boeing 747 selama 17 jam bersama orang yang terinfeksi.
Penelitian yang dilakukan ini membandingkan model mobil penumpang dari tahun 1989 hingga 2005. Peneliti memperkirakan, risiko tertular flu berkisar dari 59 sampai 99,9 persen ketika melakukan perjalanan mobil selama 90 menit dalam kondisi kedap udara.
"Area penelitian ini belum sepenuhnya dipelajari dan hasilnya akan memiliki implikasi untuk mencegah penularan penyakit lain yang disebarkan oleh partikel udara di mobil," kata Profesor Lidia Morawska, direktur Laboratorium Kualitas Udara dan Kesehatan QUT seperti dilansir The Conversation, Senin (25/6/2012).
Dalam pertemuan International Healthy Buildings Conference di Brisbane, prof Morawska menjelaskan bahwa saat ini virus influenza lebih banyak ditularkan lewat udara, misalnya di dalam mobil atau mode transportasi lainnya. Rancangan mobil yang buruk akan berkontribusi terhadap penyebaran penyakit flu ringan hingga virus berbahaya seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
"Masih banyak penelitian yang harus kami lakukan untuk dapat mengetahui segala faktor yang mempengaruhi penyebaran infeksi di dalam ruangan," kata prof Morawska.
Jika desain bangunan atau kendaraan dimodifikasi dengan berfokus pada pengurangan tingkat penyebaran infeksi, maka orang yang beraktifitas di dalamnya akan lebih kecil kemungkinannya terserang pilek dan flu. Meskipun sepele, prof Morawska berpendapat bahwa hal ini akan berdampak besar pada kualitas hidup masyarakat dan perkembangan ekonomi.
"Ketika melakukan tindakan darurat terhadap beberapa penyakit eksotis, kita perlu melihat peran bangunan dalam mencegah atau mengurangi penyebaran kuman patogen seperti SARS atau flu burung," kata prof Morawska.